RSS
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sejati. Tampilkan semua postingan

Getar Gitar Cinta


Hhfff.. !! Dengan satu lompatan saja aku sudah berada di pinggiran bibir pintu metro mini 75 jurusan Blok M yang mulai tancap gas setelah menaikkan beberapa penumpang di halte depan Pejaten Village. Sejurus kemudian nampak ku lihat wajah kenek metromini itu kurang bersahabat dengan para pengamen termasuk aku juga. Karena aku tak pernah bayar ongkos kalau naik bus. Memang itulah trik yang biasa aku pakai ketika aku lagi bokek. Apalagi kalau aku ingin sekedar jalan- jalan gratisan tanpa bayar ongkos. Malahan dengan aku mengamen dari metromini satu ke metromini yang lain bisa menjadi pemasukan tetap bagiku. Lumayan lah bisa dipakai untuk mengganjal perut tiga kali atau bahkan lebih.

Siang itu matahari sangat menyeringai. Dan angin pun membawa debu- debu di sekitar jalanan ibu kota terbang bersama. Aku yang hanya bermodal tampang yang lumayan untuk menjadi seorang artis dengan jenggot lebat dipotong tipis walaupun aku dulu tak pernah menjadi anak rohis, aku langsung tampil tanpa beban dan sedikit nekat. Sebuah gitar butut yang sedari tadi aku bawa mulai mengiringi tembang yang telah aku bawakan. Seusai membawakan beberapa tembang lagu akhirnya tak lupa ku ucapkan terima kasih dan selamat jalan kepada para penumpang sekaligus pak sopir dan keneknya.

Menyanyi sebenarnya bukan kegemaranku. Apalagi memainkan sebuah dawai gitar aku lebih tak mampu lagi. Tapi aku sempat belajar dari temanku. Sampai ia rela memberikan gitarnya kepadaku. Dulu aku waktu masih kecil pernah menang lomba menyanyi bareng teman- teman, itupun waktu aku masih duduk dibangku taman kanak- kanak. Setelah beralih ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi aku juga pernah memenangkan lomba drama bersama teman- temanku. Ketika aku masih duduk di Madradah Aliyah,aku beralih hoby yaitu menulis. Sampai- sampai aku ketika itu pernah di daulat dan mendapat amanat sebagai ketua Sie. Perpustakaan dan Publikasi. Akhirnya sampai sekarang walaupun aku juga punya sedikit prestasi, teman- teman masih memanggil aku penulis ataupun seniman.

Ternyata gelar dari teman- temanku itu masih menyisakan dalam kehidupanku. Sekarang aku memang benar- benar menjadi seniman jalanan. Seniman jalanan yang memetik senar dawai gitar butut untuk mencari uang. Setiap hari turun dari metromini satu ke metromini yang lain sambil menenteng gitar dan kantong sisa bungkus permen kopiko yang aku gunakan untuk menampung uang recehan bekas kembalian para penumpang yang mereka rasa tidak cukup berharga. Tapi bagiku yang hanya seorang perantau tanpa kawan dan sanak keluarga ini, uang recehan itu sangatlah berharga untuk menyambung hidup selama di Jakarta ini.

Sebenarnya niat awal aku datang merantau ke Jakarta ini hanya untuk menyambung kuliah. Tapi ternyata ketika itu aku gagal mengikuti ujian masuk. Aku tahu tak mudah memang mengikuti seleksi ujian masuk para calon mahasiswa di Universitas ini. Tapi akhirnya aku berpikir mungkin inilah jalan yang terbaik yang telah Allah berikan kepadaku. Inilah jalan yang harus ku tempuh. Allah pasti punya rencana di balik kegagalanku ketika itu. Rencana Allah itu pasti indah nantinya dan kadang tak di sadari oleh para makhluknya.

Aku datang ke Jakarta ketika itu dengan membawa gitar butut pemberian salah satu temanku di kampung. Bersama gitar butut inilah aku bisa hidup di Jakarta walaupun aku hanya tinggal di kost- kostan yang mungkin hanya cukup di tempati dua orang saja. Aku masih bisa bersyukur masih bisa makan walaupun dengan lauk seadanya. Gitar ini pulalah yang membiayai kuliahku di salah satu Universitas Terbuka di Jakarta. Aku memutuskan mengambil jurusan Seni dan Sastra ketika itu. Aku bersyukur sekali ketika itu walau aku tak bisa melanjutkan pendidikanku di Universitas yang telah aku incar sejak awal.

Hari berganti hari, minggu pun berganti minggu. Tak terasa satu tahun sudah aku menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Tapi tak kunjung juga pekerjaan tetap aku dapatkan. Tapi aku sedikit lega karena beberapa tulisanku pernah di muat oleh salah satu redaksi majalah. Royalti dari tulisanku yang aku kirimkan ini ternyata bisa aku gunakan sebagai pembayaran kuliahku. Kalau ada kesempatan aku selalu menuliskan imajinasiku, atau bahkan pengalamanku sampai menjadi sebuah cerpen dan aku kirimkam ke redaksi majalah.

*****

Pagi ini lagi- lagi tak bosan- bosannya jalanan ibu kota ramai oleh suara- suara bisingnya kendaraan yang melaju. Bunyi klakson dari pengendara yang tak sabar ingin cepat sampai ke tempat tujuan juga saling bersahut- sahutan. Tak mau ketinggalan aku pun juga ingin menyusuri jalanan ibu kota. Tapi bedanya aku tidak menyusuri jalanan ibu kota seperti mereka yang mengendarai sedan, kijang atau apalah merknya. Lagi- lagi dengan berbekal gitar butut di pundak dan kantong sisa bungkus permen di saku, aku mulai menyisiri jalanan. Dan berharap hari ini rezeki bersahabat dengan aku.

Lagi- lagi dengan sigap aku sudah berada di pinggiran pintu metromini. Sejenak aku menatap wajah- wajah para penumpang, aku bergumam sendiri “Seandainya tiap penumpang memberiku uang ribuan saja pagi ini pasti aku sudah bisa sarapan”. Ahh.. sudahlah aku yakin para penumpang metromini yang sudah aku tumpangi dari tadi sudah merindukan suara emasku. Ku setel terlebih dahulu senar gitar bututku sebelum aku membawakan sebuah lagu. Setelah gitarku siap, akhirnya aku pun mulai bernyanyi.

“Assalamu’alaikum dan selamat pagi semua para penumpang ! saya doakan semoga para penumpang masih berada dalam lindungan Allah. Baiklah berjumpa kembali dengan saya Fandi dengan tembang- tembang lagu yang akan mengantarkan anda semua ke tempat tujuan atau ke te tempat kerja. Satu buah lagu dari Ari Lasso akan mengawali perjumpaan kita pagi ini”.

“Selamat mendengarkan !” itulah kata pembuka yang sering aku ucapkan mengawali setiap lagu- lagu yang akan aku nyanyikan. Itung- itung untuk menarik perhatian para penumpang kepadaku. Sejurus kemudian aku langsung mempersembahkan lagu- lagu dan tanganku memainkan gitar bututku dengan cekatan.

Hhff.. akhirnya lagu demi lagu telah aku nyanyikan. Empat buah lagu yang telah aku nyanyikan pagi ini. Ternyata para penumpang tak bosan- bosannya mendengar suaraku. “Wahh berarti para penumpang puas dengan suaraku” gumamku dalam hati. Setelah menutup perjumpaanku dengan para penumpang, aku langsung menggilirkan bungkus permenku di hadapan para penumpang yang sedari tadi telah menikmati alunan suara emasku dan gitar bututku. Alhamdulillah para penumpang ada yang yang ngasih uang ratusan, lima ratusan, atau bahkan kalau lagi baik mereka ada yang ngasih selembar uang ribuan. Lumayanlah bisa untuk makan dua kali sehari. Abang kondektur yang sedari tadi manyun ku dekati “Nih bang, bagi- bagi rezeki!”. Aku sambil menyerahkan dua lembar uang ribuan sebagai ongkos. Abang kondektur yang sedari tadi pasang muka manyun tiba- tiba mukanya menjadi ceria setelah menerima ongkos pembayaranku.

Hari ini bertepatan dengan pengumuman hasil ujian semesterku. Aku agak sedikit mempercepat langkahku karena aku sudah tak sabar ingin melihat hasil jerih payahku di ujian semester yang telah aku laksanakan beberapa minggu yang lalu. Aku berharap ketika aku melihat papan pengumuman nanti IP 3,3 masih berada lurus tepat di namaku Fandi Effendi. Sebelum masuk pelataran kampus, aku tersadar bahwa gitar bututku masih tergantung di pundakku. Tapi tak apalah toh aku juga sering di panggil seniman jalanan daripada mahasiswa oleh mahasiswa yang lain. Akhirnya ku putuskan membawa gitar bututku ini masuk ke dalam kampus. Setengah berlari aku langsung menuju tempat dimana hasil ujianku ditempel. Sejurus kemudian aku langsung mencari nama Fandi Effendi dan tak ku hiraukan nama- nam mahasiswa yang lainnya.

“Cihuii..Yes..Yes !!” Indeks Prestasiku 3,3. Wah ternyata harapanku sebelum masuk gerbang tadi tercapai. Aku masih bisa bertahan rupanya. Wahh ! dulu waktu aku masih duduk di MI, SMP, dan MA ketika melihat nilaiku bagus aku pasti mengucap “Alhamdilillah” tapi sekarang berbeda. Aku jadi malu sendiri. Akhirnya ku ucapkan “Alhamdulillah” sambil menengadahkan tanganku sebagai tanda syukurku lalu mengusapkan tanganku ke wajah. Sekarang ujian semester sudah, Alhamdulillah hasilnya juga cukup memuaskan. Bagi seorang seniman jalanan hasil itu sudah sangat memuaskan. Yahh.. saatnya cari uang lagi ngamen di jalan sambil cari inspirasi di jalan yang nanti akan ku tuliskan dan akan aku kirimkan ke beberapa redaksi majalah remaja. Lumayanlah hasilnya cukup buat bayar uang kuliahku dan kalau ada sisa hasil dari redaksi akan ku tabung.

Walaupun aku masih diberi kesempatan kuliah, hatiku belum tenang karena aku belum bisa masuk di Universitas ternama yang telah aku incar sejak awal. Aku juga merasa bersalah kepada bapak dan ibuku karena dahulu ketika aku pamit merantau ke Jakarta aku berjanji bahwa aku pasti bisa kuliah di Universitas itu. Tapi ternyata sekarang harapan itu lain jauh dari apa yang aku janjikan kepada bapak dan ibuku. Tapi aku yakin walau takdir berkata lain, aku janji pasti akan berjuang demi menjadi anak yang bisa membahagiakan ibu dan bapakku.

Di depan pintu gerbang Universitas, aku baru mau keluar untuk menyisir jalanan lagi, aku berhenti sejenak di warung langgananku. “Bang, kopi ABC satu ya !” pesanku kepada abang penjaga warung itu. Setelah kopi ABC yang ku pesan sudah berada di depan mejaku, aku langsung menghisab Tji Sam Soe itung- itung sebagai perayaan kemenanganku telah mendapatkan hasil yang memuaskan dalam ujian semesterku. Di tengah- tengah ni’matnya aku menghisap Tji Sam Soe, aku teringat akan lembaran- lembaran putih di masa laluku. Dulu ketika aku mendapat nilai bagus, aku sering merayakan kemenanganku dengan mentraktir teman- teman ku ala kadarnya. Pastinya ku sesuaikan dengan isi kantongku. Kalau aku lagi punya rezeki lebih teman- temanku bahkan ada yang bisa makan nasi bungkus buat berdua. Biasanya aku kalau ujian akan tiba aku juga sering puasa sunnah Senin Kamis. Kadang aku juga sempat Puasa Nazar ketika itu. Tapi sekarang keadaan seperti itu sudah jauh dariku. Oleh karena itu aku sengaja membeli segelas kopi dan sebatang rokok saja untuk pengiritan.

Siang ini ternyata ku urungkan niat awalku sebelum keluar gerbang Universitas tadi. Aku memilih untuk berlama- lama menghabiskan waktu ku di warung langgananku ini. Aku sembari menyesali kehidupanku yang jauh dari kehidupanku dulu. Aku pun sempat berpikir bisakah aku berubah seperti kehidupanku di masa lalu. Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Aku juga tak ingin bapak dan ibuku mengetahui keadaan anaknya di Jakarta sekarang.


Depok, Jawa Barat

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Jejak Rihlah Remaja HIPPMASH 1431 H

Sabtu, 17 April 2010
Sang Mentari menyeringai siang itu, sementara angin mengajak debu-debu mengudara bersama-sama. Dua armada tronton berukuran “big” sudah berada di depan Masjid Al Ikhlash Jatipadang. Dua armada itu masih terlihat senyap oleh para penumpang. Tapi selang beberapa lama rombongan calon-calon penumpang berdatangan. Merekalah para peserta Rihlah Remaja HIPPMASH 1431 H, mereka siap diantar oleh tronton berukuran “big” itu ke daerah Cisarua-Bogor dan siap menyusuri jalanan Jakarta- Bogor bersama dua armada tronton itu. “Allahu Akbar !!! Allahu Akbar !!!” gema takbir mengantar kepergian mereka sebelum berangkat menyisir jalanan.

Sabtu, 17 April 2010
Pukul 16.00
Hhhfff…!! Alhamdulillah akhirnya rombongan para peserta Rihlah Remaja HIPPMASH 1431 H telah sampai di tempat tujuan yang telah di rencanakan sejak awal. Tampak gurat- gurat kelelahan, kepenatan di wajah- wajah para peserta begitu pula kakak- kakak panitia. Tapi tak lama kemudian gurat- gurat kelelahan, kepenatan hilang dari wajah- wajah mereka. Mungkin keindahan alam di sekitar Villa Angga lah penyebabnya. “Perhatian kepada para peserta Rihlah Remaja HIPPMASH 1431 H di harapkan berkumpul di halaman” teriak Kak Iwan Triono lewat Megaphone yang ia bawa. Rupanya mereka akan menyantap snack kecil- kecilan yang telah disediakan oleh panitia sembari melepas lelah. Alangkah indahnya kebersamaan itu. Sejurus kemudian Kak Iwan selaku koordinator acara langsung memandu acara pembukaan Rihlah Remaja HIPPMASH 1431 H. Dan Alhamdulillah acara Rihlah Remaja HIPPMASH 1431 H sore itu yang dibuka oleh Kak Munir Asnawi menggantikan Kak Isnan selaku Ketua Acara Rihlah Remaja HIPPMASH 1431 H berjalan dengan lancar sesuai harapan. Pukul 18.10 Langit semakin gelap, suara gemuruh air sungai di bawah Villa semakin jelas terdengar di telinga. Waktu pun telah memasuki waktu sholat Maghrib. Para peserta yang telah memakai pakaian Sholat pun telah siap menunaikan Sholat. Sebelum sholat dimulai Kak Kemas menjelaskan sedikit tentang gimana sich cara Sholat Magrib dan Isya’ di jama’ itu. Setelah mereka memahami sedikit penjelasan dari Kak Kemas, sholat segera dimulai dan dipimpin langsung oleh Kak Yahya. Tiba- tiba di tengah- tengah khusyu’ nya sholat, ada kejadian yang sedikit menggelitik. Yaitu suara Kak Ivan yang di amanati sebagai muballigh imam di tirukan oleh para peserta. Bahkan ada salah satu peserta yang bersuara “priikitiiiww..” Hhheeee…

Pukul 18.35
Pembukaan sudah, sholat Maghrib dan Isya’ sudah juga. Hhhmmm.. tak lama setelah sholat, kakak- kakak panitia menyiapkan santap malam untuk para peserta. Uniknya santap malam ketika itu bernuansa “Indahnya Kebersamaan” hhhmmm… satu nampan berjama’ah. Ternyata ngga’ hanya sholat ya yang berjama’ah. Santap malam juga seru kok berjama’ah. Hheee… “Kak nambah donk Kak !!” ujar salah satu peserta di tengah- tengah santap malam itu. Kita kakak- kakak panitia hanya bisa bergumam dalam hati “hhfff.. kakak aja belum makan kamu udah minta tambah” hehehe…

Pukul 21.15
Rasa kantuk para peserta nampaknya telah jelas di wajah mereka. Tapi acara mereka malam itu masih ada satu lagi. Kajian Islam nama acara itu. Acara ini langsung dipandu oleh Pak Firman Juliarto. Tak lama kemudian pemandu acara mempersilahkan Ustadz Umar Nadi untuk menyampaikan materi kepada para peserta. Innalillahi…!!! Acara baru berjalan dimulai, tiba- tiba “kak ada asap tuch” teriak salah satu peserta. Ternyata terjadi konsleting listrik. Tapi Alhamdulillah musibah ini bisa di atasi oleh panitia. Tapi walaupun begitu para peserta dan panitia sempat panik ketika kejadian itu. Setelah dirasa aman Ustadz Umar Nadi melanjutkan pembicaraanya. Dengan gayanya yang khas Beliau dengan sabar menyampaikan materi malam itu kepada para peserta. Di akhir acara Ustadz Umar Nadi memperlihatkan satu tayangan film tentang “Aborsi” kepada para peserta. Semoga mereka bisa mengambil pelajaran dari tayangan tersebut. Aminnnn.

Ahad, 18 April 2010
Pukul 04.35
Udara dingin pagi itu masih menusuk kulit- kulit kami. Embun di sekitar halaman semakin terlihat jelas. Suara gemuruh aliran sungai pun semakin jelas terdengar pula. Para peserta pun telah terbangun dari tidur malamnya. Setelah mereka rapi dengan pakaian sholat mereka langsung menuju lantai atas Villa. Mereka akan menunaikan sholat shubuh berjama’ah. Sholat shubuh pagi itu dipimpin langsung oleh Ustadz Hafidz yang kebetulan baru sampai tadi malam. Seusai sholat shubuh mereka ada acara muhasabah. Acara muhasabah ini dipimpin langsung juga oleh Narasumber tadi malam yaitu Ustadz Umar Nadi. Subhanallah…!!! Alangkah menyentuh di qolbu para peserta renungan shubuh yang di sampaikan beliau ketika itu. Ustadz Umar Nadi ketika itu menyampaikan renungannya tentang seorang ibu. Sejurus kemudian terdengar isak tangis dari para peserta. Semoga air mata yang membasahi pipi- pipi mungil mereka menjadi saksi bahwa mereka masih bisa berubah. Yaa Allah ampunilah dosa- dosa kami dan dosa- dosa kedua orang tua kami dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami di waktu kami masih kecil. Aminnn…

Pukul 06.15
“Diharapkan kepada seluruh peserta diharapkan ganti pakaian olah raga karena kita akan melaksanakan outbond” seru Kak Iwan dari pengeras suara. Selang beberapa saat mereka sudah siap dan berkumpul di halaman Villa. Outbond bernuansa games islami pagi itu juga tak kalah serunya dengan outbond lainnya. Dengan perlengkapan seadanya Alhamdulillah bisa terlaksana juga outbond pagi itu. Pagi itu outbond dipandu langsung oleh Ustadz Umar Nadi dan dibantu oleh kakak- kakak panitia.

Pukul 07.00
Udara dingin pagi itu masih terasa di kulit- kulit kami. Begitupun perut ini juga tak bisa diajak kompromi. Yupz !! rasa lapar telah terbayang di wajah- wajah para peserta. Alhamdulillah hidangan dengan menu nasi goreng yang telah di sediakan oleh panitia siap dihidangkan. Masih bernuansa “Indahnya Kebersamaan” sarapan pagi ketika itu sembari merasakan indahnya alam sekitar. Tak lama kemudian sarapan telah mereka santap. Teh hangat pun ikut mengiringi akhir sarapan mereka. Hhmmm.. Alangkah ni’matnya karunia yang telah Allah berikan kepada Hambanya. Setelah sarapan mereka di persilahkan untuk mandi karena mereka akan bertafakkur alam bareng kakak- kakak panitia.

Pukul 08. 15
Setelah para peserta sarapan, Semua para peserta telah berkumpul di halaman Villa dan siap untuk bertafakkur alam merenungi indahnya ayat- ayat kauniaNya di sekitar Villa. Ketika itu wisata air terjun curug lah yang banyak menjadi pilihan para peserta Tafakkur Alam. Bersama para kakak panitia berangkatlah mereka ke tempat yang telah direncanakan. Subhanallah … alangkah indahnya tanda- tanda penciptaan Allah di sekitar jalanan menuju curug. Mulai dengan gunung- gunung yang menjulang tinggi, hamparan pematang sawah yang hijau, indahnya rumah- rumah para penduduk yang ada di dataran tinggi itu pun menjadi pemandangan yang indah di sepanjang jalan itu. Di tengah perjalanan kami, kami sempat menemukan aliran sungai seperti yang berada di bawah Villa tempat kami menginap. Tanpa di komando oleh kakak- kakak panitia para peserta pun masuk ke air sungai sekedar merasakan dinginnya air sungai itu. Bahkan para peserta ikhwan pun tanpa di komando mereka mandi di aliran sungai itu. Kakak- kakak panitia pun tak mau kalah, mereka juga ikut mandi bersama adik- adiknya. Yang unik kakak panitia yang belum basah ataupun belum “nyebur” ke sungai mereka di gotong rame- rame oleh kakak- kakak panitia lainnya.hehe. Setelah lama di sungai mereka melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang telah direncanakan sejak awal yaitu air terjun curug. Tapi hal yang membuat para peserta ketika itu mereka tak menemukan jalan ke air terjun curug. Mereka mungkin kehilangan jejak. Akhirnya mereka pun kembali ke Villa dengan perasaan yang sedikit kesal karena tidak menemukan air terjun curug yang telah mereka inginkan. Tapi tak apalah anggap saja ini satu kenangan yang gak akan terlupakan seranjang hayat. Hehe…

Pukul 13.15
Setelah melewati perjuangan yang begitu melelahkan, para peserta akhirnya sampai juga di Villa. Sesampai di Villa mereka langsung disambut hidangan makan siang. Ternyata makan siang itu adalah makan terakhir mereka di Villa itu. Subahanallah ! ni’mat rasanya setelah lelah menyusuri jalanan mereka langsung disambut hidangan makan siang. Setelah makan siang mereka di persilahkan sholat dzuhur dan ashar dan istirahat sembari menunggu waktu pulang ke Jakarta.

BERSAMBUNG (buntu bro !!!!!)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Bersafari Yukk…!!!

Bersafarilah…! Jika kalian merasa bersedih hati, suntuk, lalu stress bin frustasi atas semua beban hidup yang yang kalian alami. Rupanya bersafari itu indah dan ni’mat sekali, bahkan mengasyikkan atau bahkan terkadang bisa membuat kalian mengharu biru sampai-sampai air mata yang bening ini menangis menganak sungai membasahi pipi. Apalagi ketika kalian menyaksikan ayat-ayat kauniyah-Nya sangat mempesona di sepanjang perjalanan kalian. Mungkin itu indahnya ciptaan Ar Rahim yang ada di daratan maupun yang ada di lautan. Lalu tanpa sadar kerinduan kalian mencuat ketika menyaksikan “adik-adik” kecil yang masih lugu-lugu itu benar-benar masih membutuhkan kehadiranmu setiap saat. Harapan untuk selalu mendapatkan bimbinganmu selalu mereka rindukan setiap saat. Anak-anak kecil di pelosok pinggiran “Sungai Mahakam” itulah yang selalu menantikan kehadiran kalian. Mereka nampak lugu-lugu tapi mereka penuh dengan cita-cita serta harapan yang besar. Mungkin aku, begitu juga kalian yang selama ini cuek ! bahkan “cuek bebek” akan segera merubah sikap kita menjadi orang yang suka atau malah “nggak tega” ketika melihat anak-anak lugu di pinggiran “Sungai Mahakam” itu. Mereka lugu-lugu, kecil-kecil, berjilbab mungil-mungil lalu mereka belajar wudhu, belajar sholat, bernyanyi, mengaji bersamamu selama kurang lebih satu bulan. Tapi lantas ketika mereka telah dekat dengan kalian bahkan mereka mulai memanggilmu “kakak” atau “ustadz” dan telah terpaut antara hati kita dan hati mereka, bahwa aku dan juga kalian adalah saudara mereka, tiba-tiba kalian harus berpisah dengan mereka. Bayangkan bagaimana yang mereka rasakan ketika itu. Entah sengaja ataupun tidak butiran-butiran bening itu sedikit demi sedikit pasti akan menetes membasahi pipi-pipi mungil mereka.

Jika selama ini masih ada rasa, bahwa kita ini telah cukup berilmu lalu merasa “wah” dan hebat pada diri kalian termasuk aku. Yukk ! kita bersafari..!!. Betapa orang-orang di kampung kita atau bahkan orang-orang di daerah Malang, Gresik, Jombang, Pandaan, Sidoarjo, Jember, Lumajang, Bondowoso, Sapeken dan bahkan penghuni di segenap pojok bumi pertiwi dan sejengkal ranah dunia ini masih senantiasa menanti untaian-untaian kalimat yang keluar dari rongga pita suara aku dan juga kalian. Apalagi mereka sejak awal telah mengetaui kalau aku dan juga kalian adalah bagian dari The Student Of PERSIS Bangil, tapi ingat jangan sampai ada rasa “wah” yang muncul dari diri kita, karena itu yang akan membuat setan merasa menemukan celahnya.

Bersafari bukan hanya sekedar me”refresh” otak, tapi lebih dari itu. Yaitu sebagai pengenalan da’wah dan sedikit ilmu yang telah kita dapat. Supaya kita semua tersadar bahwa betapa luasnya bumi tempat kita berpijak ini. Sehingga, kita sadar bahwa hidup kita ini tidak hanya berputar sekitar asrama, perpustakaan, kelas, math’am, masjid, lapangan, plaza, alun-alun Bangil. Tidak ! kalau tetap itu semua yang kita lakukan itu terlalu sempit. Mengapa kita tidak belajar dari orang-orang terdahulu, mereka bahkan keliling dunia sampai bisa menemukan satu Benua. Rupanya, bersafari seperti ini tak harus berkelana menjelajah dunia. Tapi kita juga bisa membaca buku-buku sejarah, atau hanya sekedar menyapa mengapa sampai Hitler mati bunuh diri, atau mengapa Thomas Alva Edison bisa jadi orang terkenal dan di kenang jasa-jasanya. Itulah hasil dari pengembaraan. Tapi kita akan menemukan orang-orang unik di sepanjang pengembaraan kita yang terkadang bisa menjadi ibroh bagi kita semua.
Teman. Jika selama ini hidupku, sikapku, perkataanku selalu membuat kalian meradang marah atau bahkan aku selalu selalu membuat kalian menggerutu di belakangku, aku mohon bukakan pintu kalian buat aku. Aku sadar, aku hanyalah anak jalanan. Anak jalanan yang selalu ingin berada di Jalan Allah SWT. Do’akan aku selalu agar aku bisa “menyambangi” kampung-kampung kalian. Lalu mari kita eratkan ukhuwah kita untuk selalu menghadirkan kehendak-kehendak Sang Maha Rahman dan Rahim di segenap pojok bumi pertiwi ini. WALLAHU A’LAM BISH SHOWAB

Ya Allah jadikan umur terbaik hamba di penghujungnya, jadikan amal baik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari hamba saat bertemu dengan Mu… Aminn

*Penulis adalah anak jalanan yang senantiasa ingin berada di jalan-Nya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Selamat Jalan Teman

Sejak pertama aku menginjakkan kaki di sebuah tempat yang lumayan tua, yang terletak di jalan utama yang menghubungkan antara Surabaya- Bali, aku merasa tak pantas tinggal di tempat ini. Suasana yang mungkin baru kali ini aku temui. Kuberanikan ketika itu keliling lingkungan calon tempat yang akan kutinggali setelah ini, itung-itung untuk observasi. Ketika waktu makan siang tiba, rasanya aku tak percaya ketika kulihat segerombolan anak-anak lugu menuju suatu tempat yang mereka sebut “math’am”, aku juga tak percaya mereka ada yang makan di tutup panci untuk lima orang, makan sepiring berdua, setelah makan ngantri minum air kran. Dan ketika itu aku berpikir bisa gak ya aku nanti tinggal di tempat ini ? Tapi nampaknya setelah aku pikir-pikir seru juga untuk di coba suasana seperti yang baru tadi aku lihat.

Setelah hari H ku putuskan untuk berangkat ke tempat yang beberapa hari yang lalu telah ku observasi. Tak lupa aku pamit dan sungkem kepada kedua orang tuaku, adik-adikku, tetangga sebelah pun tak lupa aku pamiti. Akhirnya dengan modal bismillah dan nekat serta tas bututku aku berangkat menuju tempat tujuan. Di tengah perjalanan aku sempat berpikir mungkinkah aku kuat tinggal di tempat itu nanti ? mau mandi harus antri, mau makan harus antri, jauh dengan keluarga juga, jauh dengan teman-teman rumah juga. Ahh.. biarlah semua itu membayang- bayangiku di sepanjang perjalanan ini. Dengan modal bismillah dan mengharap ridhoNya yang telah aku ikrarkan sejak aku mulai berangkat dari rumah tadi aku yakin pasti bisa.

Setelah beberapa aku sampai di tempat itu, aku baru tahu kalau tempat itu namanya adalah Pesantren PERSIS Bangil. Tempat di mana banyak anak- anak menuntut ilmu agama juga tak sedikit orang- orang berilmu yang tinggal di Pesantren itu. Aku merasa bersyukur kepada Allah SWT karena aku masih bisa melanjutkan pendidikanku. Rasanya lagi- lagi aku tak percaya karena dulu aku sempat punya keinginan untuk berhenti sekolah dan tak lagi melanjutkan pendidikanku. Ketika itu aku ingin mencari pekerjaan saja, itung- itung membantu meringankan beban orang tuaku karena mengingat adik- adikku masih kecil dan mereka juga masih butuh pendidikan.

Hari- hari di Pesantren PERSIS Bangil ini aku jalani dengan suka cita. Mulai dari menuntut ilmu, sorogan, muhadhoroh, sholat jama’ah, mandi antri, makan antri, dan masih banyak lah aktifitas yang mungkin aku baru tahu ketika aku mulai tinggal di pesantren ini. Teriring dengan berjalananya waktu, tak terasa juga ilmu yang di ajarkan oleh asatidzku sedikit demi sedikit mulai bertambah, pengalaman pun tak sedikit juga yang ku dapat dari teman- teman senasib seperjuanganku di Pesantren PERSIS Bangil ini. Hebatnya lagi banyak pengalaman- pengalaman ataupun ilmu- ilmu yang ku dapat di Pesantren PERSIS Bangil ini belum pernah ku temukan di luar sana.

******

Ketika penaku mulai menari- nari di atas kertas ini, aku merasa sedih bercampur haru. Karena tak lama lagi aku dan teman- teman senasib seperjuanganku akan meninggalkan Pesantren PERSIS Bangil ini. Bukan karena aku dan teman- temanku di usir dari Pesantren PERSIS Bangil ini. Melainkan memang jatah tinggal kita di pesantren sudah habis. Aku berpikir bisa gak ya aku bisa menemukan orang- orang hebat seperti kalian teman- temanku ? Rasanya tak mungkin karena aku pikir hanya di Pesantren PERSIS Bangil inilah aku temukan orang- orang seperti kalian. Kalian yang telah banyak memberikan kepadaku pelajaran tentang arti persahabatan, arti kehidupan, dan tak jarang pula kalian telah memberikan aku inspirasi hebat. Entah itu kalian sengaja ataupun tidak.

Malam itu aku semakin sedih. Bahkan ku jadikan kertas dan penaku ini sebagai tempat muhasabah ku. Aku merenung sejenak ketika itu, apakah ilmu- ilmu dari para asatidz ku kelak bisa aku pertanggung jawabkan ? apakah kelak ilmu akhlak yang telah ku dapat bisa aku “bawa” setelah aku bergaul dengan masyarakat di rumah ? bisakah aku kelak menjadi pengganti asatidz ku mengajarkan ilmu ku kepada orang lain ? aku juga merasa banyak dosa kepada teman- temanku, apalagi terhadap para asatidzku mungkin tak bisa dihitung dengan jari berapa banyak dosaku kepada para asatidzku, mungkinkah Allah masih mau mengampuni santri seperti aku ini ???

Aku juga ingat pesan dan nasehat orang tuaku. Beliau berkata kepada ku “Nak, jalan para penuntut ilmu itu bagai jalan berlumpur. Engkau harus bisa lalui semua itu agar orang tuamu bangga punya anak sepertimu. Jangan sia- siakan waktumu nak…”. Ya Allah aku sangat berdosa sekali pada orang tuaku setelah nasehat itu terlintas di pikiranku. Rasanya tak jarang juga nasehat beliau hanya masuk di telinga kanan ku dan tanpa di komando nasehat beliau pun keluar dari telinga kiriku. Yaa Allah ampunilah dosa- dosa santri yang tak tahu malu seperti aku ini Ya Allah.

Spesial untuk teman-temanku:

Sejak pertama aku bertemu dengan kalian banyak sekali kenangan yang kita lalui. Suka maupun duka pun juga telah kita rasakan. Canda tawa diantara kalian sebentar lagi tak akan terlihat lagi. Masa – masa indah bersama kalian pun terlewati. Semuanya kini tinggal kenangan yang bersemayam di hati ku. Kecerianmu adalah kecerianku, kesedihanmu adalah kesedihanku, tawamu adalah tawaku, hatimu adalah hatiku, jiwamu adalah jiwaku. Teman- temanku… perpisahan adalah rekayasa hidup. Perpisahan bukanlah akhir dari selamanya. Namun sekarang kita telah berpisah. Teman- temanku… Perjuangan kita tidak hanya sampai sini, Perjuangan kita belum selesai… SELAMAT JALAN TEMAN- TEMAN KU…

*Penulis adalah mantan Ketum Sie. Perpustakaan & Publikasi Periode 2007/2008 ketika di P3P (Persatuan Pelajar Persis Putra) Bangil.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Alumni Where Are You Going...???

Detik-detik perpisahan dengan pesantren tercinta terasa sangat berat bagi sebagian besar santri yang memang mencintai ilmu&tholabul 'ilmi. Suasana pesantren dengan latar belakang jalan utama yang menghubungkan kota SBY-BALI, makan bersama dg "tutup panci", segernya "air kran", begadang malam, canda tawa dengan teman, lelahnya berorganisasi, semuanya kini tinggal kenangan yang pasti tak kan terlupakan. Kesenangan dan kesedihan itu telah menjadi pengiring para tholibul 'ilmi di PERSIS Bangil. Dan setelah berada di luar gerbang ma'had akan terlontar pertanyaan "kemana kah kaki kan melangkah ?"

Kuliah, ya itu jawabannya. Tapi manakah kampus yang dituju ? Pertanyaan baru muncul lagi. Setelah menemukan jawaban yang tepat dimana tempat yang cocok dengan minat dan potensi kita, maka timbul pertanyaan kedua, mampukah ortu membiayai kuliah kita ? Dari manakah biaya yang besar itu diperoleh untuk kuliah kita ? Bersyukurlah jika Allah mengkaruniakan kita ortu yang mampu, namun jika tidak berusahalah dengan mencari peluang beasiswa atau mengambil alternative lain.

Bekerja, barangkali itu jawaban alternative kedua. Tapi dmana kita harus bekerja? Dengan kemampuan yang kita miliki, modal finansial yang ada, jaringan yg luas, banyak pilihan yang bisa diambil, menjadi karyawankah, wirausahawan atau membuka peluang kerja baru. Dan bagi yang sudah bekerja, ia selangkah di depan dari yang masih kuliah, walaupun bekerja bukanlah tujuan utama bagi pencari ilmu.

Menikah, barangkali jawaban yang paling aman bagi alumni yang sudah punya "ba'ah" untuk menikah. Tantangan zaman berikut godaan-godaannya bisa menjadi cobaan terberat bagi seorang alumni, karena setelah sekian lamanya "dipenjara" di lingkungan suci sebuah lembaga pendidikan islam ia harus berinteraksi dan terlibat dalam pergaulan masyarakat yang kadang tak mengenal batasannya. Menikah bisa menjadi benteng sekaligus pendewasaan diri dengan berbagai permasalahannya.

Ada hal penting mungkin yang perlu dipahami seorang calon alumni PERSIS Bangil, ketika terjun dimasyarakat, akan banyak pertanyaan dan permintaan yang akan diajukan. Ketika itu pula akan ada evaluasi bagi seorang alumni pesantren tentang apa yang telah mereka pelajari semasa di pesantren dulu? Banyak kata-kata penyesalan pastinya ketika hal tersebut hilang terlupakan, enam atau empat tahun yang terlewatkan itu menjadi sia-sia, ketika kemampuan itu tak berbekas ditambah dengan akhlaq, ibadah dan tarbiyah seorang alumni PERSIS Bangil tidak terjaga. Sebaliknya ketika seorang alumni PERSIS Bangil menjadi seorang ilmuwan yang dibarengi dengan akhlaq, ibadah dan tarbiyah yang masih konsisten, ditambah dia seorang yang hafal Al Qur'an, menguasai Hukum hukum Islam, ia akan mengisi dan mewarnai berbagai komponen di masyarakat. Ia seorang da'i atau enterprenur sekaligus da'i. Itulah mungkin cita cita kesempurnaan seorang santri dari lembaga pendidikan islam yang berbasis dakwah, tarbiyah, dan hukum islam ini. WALLAHU A'LAM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0