RSS
Tampilkan postingan dengan label Geguritan Ati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geguritan Ati. Tampilkan semua postingan

Jangan Cabut Nyawa Ibuku

Oleh Fiyan Arjun

Empat hari sudah Nyak—biasa kupanggil dirinya terbaring di atas pembaringan. Tak berdaya. Kesakitan. Menahan sakitnya yang makin ia rasakan. Hingga membuat ia tak kuasa untuk menahan sakit yang ia derita. “Aduh…aduh…,” begitu ia menceracau menahan sakitnya.

Empat hari sudah ia begitu. Tak berdaya. Kesakitan. Dan tak jarang makan pun tak mau. Lama makin lama pun tubuhnya ikut menyusut—dengan ditambah tubuhnya yang kecil. Seakan penyakit yang diderita menggeroti dirinya. Dan begitu ia rasakan! Lalu aku bisa apa?

Ya, aku bisa apa? Itulah jawaban dalam diriku!

Seperti tulisan yang aku tulis saat ini ibuku masih dalam pembaringan. Masih menahan sakitnya. Aku sebagai anak lelakinya melihat keadaan seperti itu sungguh aku tak kuasa. Terlebih ketika ia seringkali bergumam,” adu..aduh…!” Sungguh aku tak berdaya. Tak kuasa untuk melihatnya lebih lanjut. Benar-benar memilukan adegan yang kutangkap di mata minusku ini. Ibu satu-satunya. Orang yang aku kasihi sekaligus tempat berbagai gundah kini tak berdaya. Melihatku pun ia semakin kabur. Yang ada hanya sebuah rasa sakit yang terbias di kelopak mata tuanya….Tuhan jangan cabut nyawa ibuku!

“Kalau Nyak nggak ada jaga diri lu ya baik-baik. Nyari kerja yang benar. Soal kuliah biarlah, kalau bisa lu lanjutin kalau tidak bisa ya lu nyari kerja aja yang benar. Jangan ribut melulu sama adik lu.” Ucap saat aku ada dihadapannya. Ia memberikan sesuatu untukku. Entah itu wasiat atau nasehat lagi-lagi aku tak bisa menalarnya. Antara kesedihan dan rasa takut ditinggalnya telah menyatu dalam diriku. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa.

Aku dengar baik-baik perkataannya walau rasa hatiku ngilu. Miris. Tak dapat aku katakan lagi. Tuhan apa nyawa ibuku sampai disini!

Aku terus berguma. Dalam hati aku terus berdoa agar ibuku cepat diangkat sakitnya. Dan kalau bisa aku rela penyakitnya digantikan olehku. Apalah aku sampai saat ini aku belum bisa membahagiakannya. Kerja belum dapat yang sebenarnya. Kuliah butuh biaya yang besar lagi. Di tambah separuh dien-Nya pun belum aku tunaikan. Itulah yang masih bergelayut di pundakku. Tanggung jawabku sebagai seorang lelaki—serta calon suami nantinya. Jadi sebelum aku mendapatkan itu semua biarlah aku saja yang menderita, Tuhan! Itulah hati kecilku berkata. Karena aku tak ingin ditinggalkan oleh ibuku!

www.eramuslim.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Ah..Emak..


Entahlah...
Ini telah kali ke berapa aku tak berada kembali di sampingnya. Tak ada balasan pelukan yang hangat dan nyaman setelah punggung tangannya yang keriput kucium di hari ulang tahunnya. Tak ada pula sentuhan kasih dari pipi yang banyak digurat garis ketuaan. Saat ini pula tak terdengar lagi canda tawa seperti dulu lagi karena kini aku dan Emak telah jauh terpisah oleh bentangan jarak yang ada.

Alhamdulillah...
Sampai saat ini Allah masih memberikan karunia usia kepada Emak. Sehingga Emak masih bisa menjalankan fithrahnya layaknya seorang hamba. Aku yakin begitu juga yang terjadi pada ibunda di seluruh dunia. Bahkan mereka termasuk orang-orng yang serba kekurangan. Karena semua yang ada hanya untuk anak-anaknya tercinta.

Memang, keikhlasan ibunda bagaikan luasnya samudera. Mereka rela melepas setiap anak kandungnya walau harus jauh terpisah. Pun, begitu juga Emak. Tak masalah baginya, ketika di hari ulang tahun aku kembali tak berada di tengah keluarga. Apalagi ia tahu bahwa aku sedang menuntut ilmu di Kota Metropolitan, yang membuatnya senantiasa bangga. Tercapai sudah harapan agar setiap anak haruslah lebih pintar dari orang tuanya.

Namun...
Adakah seorang ibunda yang tak akan bahagia ketika anak tercintanya selalu berada di dekatnya ? Aku yakin yang Emak rasakan sekarang seperti itu pula. Apalagi ketika Emak sudah mulai di usianya yang udzur. Siapa lagi yang akan di andalkan kalau tidak anak-anaknya. Apalagi aku anak pertama Emak.

Rasanya perasaan itu juga aku rasakan ketika kita masih kecil tak berdaya. Tapi itulah Emak dengan rasa kasih sayang si dekapnyalah aku. Ikhlash ia berikan air susunya yang beraroma surga, tangan sigapnya pun tak lelah menyuapkan makanan ke mulutku, bahkan mata Emak mungkin enggan terpejam walau aku sudah terlelap dalam buaiannya.
Aaah...
Entah mengapa, semakin lama aku meninggalkan Emak bagaikan menumpuk rasa bersalah. Emak-lah yang dulu pernah bercucur air mata ketika aku pamit mencium tangannya. Emak pula yang selalu ku harapkan masih ada nanar surga terpancar jelas di matanya.


Ketika usia Emak semakin udzur, seketika itu pula pertanyaan yang sama selalu menyeruak membayang-bayangiku setiap saat,

"Ketika aku pulang nanti, masihkah Emak yang menyambutku di pintu rumah?"

Mak...
Ketika tangan ini menulis, sesungguhnya jiwa dan raga ini bagaikan ingin terbang mengangkasa. Lalu diri ini tersungkur di hadapanmu dan engkau peluk aku dengan cintamu seperti dahulu.Rasa rinduku kadang tumpah lewat buliran air mata ini.

Mak...
Saat aku pulang, kuingin pula engkau yang pertama kali merengkuh tubuh anakmu. Anak yang sering sibuk hingga melalaikan do'a terhatur untukmu. Anak yang tak pernah membahagiakanmu, Mak. Bahkan nasehatmu lewat telepon sering aku hiraukan Mak.

Mak...
Percayalah anakmu kelak akan pulang , Mak. Pasti aku akan pulang. Walau gelar, uang atau kemewahan tak mampu kupersembahkan kepadamu, biarkanlah di sisa usiamu anakmu ini masih bisa mencurahkan kasih sayangnya Mak...

Mak…
Saat aku pulang nanti, sambutlah aku di pintu rumah. Lalu baluri dengan do'a dan senandung pengantar tidur. Atau, maukah engkau yang mendengar kisah pengalamanku? Dan kemudian tidurlah di pangkuan anakmu, seperti yang sering engkau lakukan padaku ketika masa kecilku dulu.

Yaa Allah tolong jaga Emak ku Yach… Aminn

WALLAHU A’LAM

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments4